Perbedaan

Posted by: KARINA HEZA PRATAMA  :  Category: Google

Siapa yang tak kenal dengan Indonesia? Indonesia adalah negara yang kaya. Kaya akan keberagaman budaya, agama, bahasa, dan ras. Hal ini dapat terlihat dari agama yang terdapat di Indonesia ada 5, yaitu: islam, katolik, kristen protestan, hindu, budha, dan konghucu. Selain itu Indonesia juga memiliki banyak ragam budaya, dari Sabang hingga Merauke. Tetapi dari perbedaan tersebut, terkadang masih ada segelintir oknum yang memunculkan adanya konflik. Konflik tersebut bisa terjadi karena adanya salah persepsi, dan penilaian orang ketika pertama kali bertemu (baca: judge in the cover).

Tidak usah jauh-jauh, mari kita lihat pertikaian antarbudaya. Pertikaian antara orang Lampung dengan orang Jawa. Orang Lampung telah menjudge orang Jawa bahwa orang Jawa itu sombong dan tidak tahu diri sedangkan orang jawa menilai orang Lampung itu pemalas. Dalam pemakaian bahasapun masih ada salah persepsi diantara orang yang berbeda daerah, contoh: pemakaian kata “atos”. Dalam bahasa Jawa, atos itu adalah keras sedangkan dalam bahasa Sunda atos itu adalah sudah. Selain itu dengan adanya keberagaman agama di Indonesia, ada saja oknum yang megatasnamakan agama. Masih ingatkah Anda dengan bom di gereja-gereja ketika malam natal? Itu salah satu ulah oknum yang mengatasnamakan agama X. Tidak ada agama satu pun yang menyuruh umatnya agar mencelakakan agama lain. Kebebasan dalam memeluk agamapun terdapat pada pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.

Sebenarnya masih ada orang-orang yang memiliki toleransi tinggi. Sikap dan pikiran mereka terkadang dinodai oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Bukankah dengan adanya keberagaman budaya, bahasa, agama, dan ras itu bagus? Bukankah dengan adanya rasa toleransi yang tinggi terhadap perbedaan itu jauh lebih baik? Kita bisa saling melengkapi antara satu sama lain. Indonesia akan semakin terlihat kaya akan keberagaman dan rasa toleransi yang tinggi antara masyarakatnya (KK/Rin).

Tujuh Belas Orang Berpendapat Tentang Surat Keterangan Rektor

Posted by: KARINA HEZA PRATAMA  :  Category: Uncategorized

1.      “It’s ok, no problem. Kesan rapi dan intelek lebih termunculkan, dengan pakaian seperti tu gak menutup kemungkinan seseorang bisa modis dan stylish serta membiasakan diri untuk terjun ke dunia kerja kelak” Reza AGH 46.

2.      “Tidak setuju. Kalau mau gitu nanti aja pas kerja, sekarang gak usah mikirin masalah penampilan yang penting  prestasi. Kalau semua mahasiswa jadi mahasiswa berprestasi yang bangga kampus juga” Lutfi MNH 46.

3.      “Tidak setuju, peraturan tersebut semakin membuat ruang gerak kreatifitas mahasiswa semakin terkekang, pengekangan tersistem” Rajib KPM 44.

4.      “Sangat tidak setuju. Tolak ukur intelek mahasiswa gak bisa diukur dari penampilannya. Tiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda, walaupun pakaiannya kaos atau rambutnya kribo, belum tentu otaknya gak jalan” Nando ITK 46.

5.      “Tidak setuju. Kita bukan sekolah kedinasan yang menerapkan sistem yang agak sedikit memaksa untuk menciptakan suasana yang rapi” Yonathan TIN 46.

6.      “Tidak setuju. Intelektualitas tidak bisa dilihat dari kostum yang orang pakai, tapi bagaimana mereka berpola pikir bukan berpola pakaian yang dia pakai” Doni Statistika 44.

7.      “Tidak setuju. Semua SK itu melanggar hak asasi, kayanya SK terdahulu saja sudah sedikit membatasi kita. Padahal kan kita mau belajar, gak pake diatur segitunya. Pakai pakaian sopan dan sepatu yang sopan sudah cukup kan? Coba lebih memperhatikan peningkatan fasilitas daripada kaya gini, toh gak ganggu proses belajar juga” Endrawati MNH 45.

8.      “Sangat tidak setuju, karena menurut gw rambut itu hak asasi manusia. Gimana kalau yang gak punya? Beli? Gak perlu juga pakai kemeja, celana bahan. Kalau emang harus rapi kan bisa dimaksimalkan apa saja yang ada” Alvikha Adrian MSL 46.

9.      “Setuju, biar tampang anak IPB tambah culun” Edgina Burton IPTP 46.

10.  “Nggak setuju. Masa kaya anak SMA saja. Kita pelajar mahasiswa juga pasti punya batasan sendiri dan mandiri untuk menilai mana yang baik dan yang tidak” Nadia KPM 45.

11.  “Nggak setuju, karena kalau pakai rok ribet. Gak nyaman buat duduk” Nursasih INTP 46.

12.  “Setuju. Sikap disiplin harus terwujud sedini mungkin” Haddi Wisnu FKH 46.

13.  “Kalau untuk rambut, saya sih setuju saja. Hitung-hitung biar rapi. Tapi kalau pakaian seperti itu, saya tidak setuju. Justru saya lebih setuju kalau tidak ada aturan yang harus meresmikan pakaian. Aturan cukup pakaian sopan” Abdul Haris KPM 45.

14.  “Sebenarnya sih gw gak setuju, karena membatasi kreatifitas, agak berlebihan, dan gak yakin bakal diturutin. Tapi kalau emang harus kaya gitu, gw mah ngikut aja. Gw yakin Pak Heri punya pertimbangan buat kebaikan kita juga” Didit KPM 45.

15.  “Ngga setuju, karena membatasi kebebasan kita dalam berekspresi dan membatasi kenyamanan dalam mengikuti proses perkuliahan” Luthfi Adhitya ESL 46 dan Yohana KSH 46.

16.  “Ngga setuju. IPB/Bogor Agricultural University adalah satu bentuk perguruan tinggi. Gak seharusnya aturan sampai segitunya. Ok kalau mahasiswa tingkat akhir yang mau PKL. Tapi tidak untuk keseluruhan. Aneh juga dilihat. Ujung-ujungnya penilaian universitas lain ke kita pun jadi tanda tanya besar” Anesti Statistika 46.

17.  “Ngga setuju. Apa alasannya bikin SK kaya gitu? Buat penyeragaman mahasiswanya? Gini aja kalau orang dipaksain yang gak disuka kerjanya gak akan maksimal. Kenapa gak urus yang lebih penting aja kaya fasilitas kampus seperti kamar mandi dibagusin dan diperbanyak, tempat sampah diperbanyak, tempat parker motor diperbanyak. Universitas-universitas di luar negeri aja kayanya santai sama urusan pakaian. Yang terpenting mahasiswanya berkualitas, membanggakan, dan berguna untuk bangsanya” Faiza Libby dan Intan Endawaty KPM 46.

Kehebatan Pemainan Monopoli

Posted by: KARINA HEZA PRATAMA  :  Category: Sosial Ekonomi dan Lingkungan

Siapa yang tak kenal permainan Monopoli? Hampir semuanya mengetahui. Tapi, bagaimana jika permainan tersebut langsung dilakukan orangnya sebagai pion jalannya? Itulah yang dilakukan siswa SDN Babakan 3, Minggu pagi(13/02) di Gladiator dekat Kantin Plasma. Permainan ini diadakan oleh siswa SDN Babakan 3. Uniknya lagi, bukan sembarang monopoli yang digunakan, melainkan ecomonopoli karya Anisa yang berkuran lebih besar dari monopoli biasanya. “Saya menamakan permainan ini dengan nama Ecomonopoli, karena permainan monopoli yang isinya tentang lingkungan. Bagaimana caranya supaya anak-anak mengetahui apa itu Go Green dan lebih mencintai lingkungannya. Selama ini kan anak-anak tidak mengerti apa itu Go Green dan mereka tidak tahu harus melakukan apa untuk lingkungannya”, tutur Anisa Pendiri Permainan Ecomonopoli.

Permainan ini pun membuat anak-anak lebih aktif dan kreatif. Hal ini dapat dilihat ketika ada sebuah pertanyaan di dalam Ecomonopoli tentang bagaimana caranya agar lingkungan kita tetap bersih dan juga mengajak anak-anak agar lebih peduli terhadap lingkungannya.

Ecomonopoli ini pernah mengikuti beberapa perlombaan di Danamon, Asoka, dan Buyer bahkan sebuah permainan tersebut pernah  mendapat undangan untuk pergi ke Jerman. Tujuan dibuatnya ecomonopoli adalah agar anak-anak lebih konsen terhadap lingkungan khusunya pada perubahan perilaku mereka. “Kita mengajak anak SD untuk bermain permainan ini karena pendidikan lingkungan yang paling tepat dimulai dari sejak SD”, tutur Wendo salah seorang panitia permainan Ecomonopoli. Peserta yang mengikuti permainan tersebut sangat antusias dan serius, terbukti saat mereka harus berjalan diatas permainan yang ukurannya sangat besar. “Ikut main Ecomonopoli itu seru kak. Aku jadi tahu Go Green itu apa dan aku harus berbuat apa untuk lingkungan sekitar”, tutur salah seorang siswa SDN Babakan 3 KK/Rin.

FIA???

Posted by: KARINA HEZA PRATAMA  :  Category: Uncategorized

FIA (Fapet In Action) adalah salah satu kegiatan besar BEM Fapet dari departemen Soskem yang memiliki tujuan agar masyarakat lebih memperhatikan produk peternakan yang memiliki nilai gizi yang tinggi. Acara FIA dibagi kedalam dua kegiatan, yaitu D’ White Revolution yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 09 Oktober  2010 di SD 01 Balumbang Jaya, SD 02 Balumbang Jaya, dan SD 04 Dramaga sedangkan D’ Red Revolution dilaksanakan hari Minggu, 10 Oktober 2010 di Pasar Anyar.

Dalam kegiatan acara D’ White Revolution ada satu kegiatan yang sangat menarik, yaitu pada saat tim FIA membagikan susu gratis kepada siswa SD 01 Balumbang Jaya, SD 02 Balumbang Jaya, dan SD 04 Dramaga. Mereka meggunakan media boneka-boneka hewan dengan menggunakan konsep pewayangan pada saat menjelaskan kepada para siswa bahwa pentingnya minum susu di masa pertumbuhan. Selain itu juga ada kegiatan permainan menyusun makanan sehat. D’ Red Revolution merupakan suatu kegiatan dengan tujuan agar konsumen mengetahui secara fisik kondisi daging segar. Kegiatan ini dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan kuisioner yang terlampir pada selembar brosur, sehingga tim FIA dapat mengetahui sejauhmana para konsumen mengerti akan karakteristik daging yang segar.

Sasaran utama dalam acara FIA adalah masyarakat sekitar kampus Institut Pertanian Bogor, yaitu para siswa SD 01 Balumbang Jaya, SD 02 Balumbang Jaya, SD 04 Dramaga, dan para konsumen daging di Pasar Anyar.                                              Acara FIA baru dilaksanakan tahun ini, jadi bisa dikatakan ini adalah tahun pertama. Tetapi pada tahun sebelumnya juga ada kegiatan yang serupa tapi tak sama seperti FIA, yaitu Milk Day.

“Jika acara ini dapat terus berlanjut serta dapat memperluas sasarannya, mudah-mudahan masyarakat semakin sadar bahwa protein hewani itu penting, protein hewani cerdaskan bangsa,” tutur Achdywan Wenda Ketua Pelaksana acara Fapet In Action.

Pajak Telah Memakan Korban??

Posted by: KARINA HEZA PRATAMA  :  Category: Sosial Ekonomi dan Lingkungan

Pajak bukanlah hal yang aneh di lingkungan masyarakat. Setiap warga negara Indonesia wajib membayar pajak penghasilan. Pajak tersebut disesuaikan tergantung berapa penghasilan yang mereka dapatkan. Hal ini telah tercantum dalam peraturan pemerintah dan perundang-undangan Republik Indonesia. Tetapi akhir-akhir ini pajak telah memakan korban. Bukan hanya restoran mewah saja yang harus membayar pajak, warga yang memiliki warung tegal atau biasa disebut warteg juga harus membayar pajak penghasilan. Tidak peduli seberapa besar atau seberapa kecil ukuran warung tegal tersebut, seperti halnya warteg di lingkungan Babakan Tengah Dramaga, mereka harus membayar pajak penghasilan Rp400.000,00 pertahun. Akibatnya warga yang berpenghasilan pas-pasan semakin merasa tidak sanggup untuk membayar pajak tersebut.

“Iya Neng, sekarang mah pajak makin mahal. Yang kecil makin terpuruk yang besar makin merasa kaya. Seharusnya para koruptorlah yang terkena pajak paling mahal”, ujar Teh Tina pemilik salah satu warung tegal di Babakan Lio, Dramaga.

Begitupula yang dirasakan oleh para mahasiswa IPB, mereka merasa iba ketika tahu bahwa warung tegal juga harus terkena pajak. Mereka merasa seharusnya yang terkena pajak paling besar adalah para koruptor bukan rakyat kecil yang penghasilannya serba pas-pasan.

“Kalau secara normatif kurang pantas warteg terkena pajak, walaupun pajak adalah kewajiban setiap warga negara. Ya paling tidak untuk ukuran warteg yang ukuran kecil, pajaknya dimurahkanlah. Disesuaikan dengan penghasilan yang mereka dapatkan”, ujar Ilham Tawakal seorang mahasiswa KPM angkatan 45 KK/Rin.

Fema 46 Peduli Merapi

Posted by: KARINA HEZA PRATAMA  :  Category: Sosial Ekonomi dan Lingkungan

Sabtu (06/11/2010) FEMA 46 mengadakan suatu kegiatan bakti sosial yang dinamakan PENGGALANGAN DANA MERAPI FEMA 46. Awalnya kegiatan ini bermula dari kumpul para ketua angkatan 46 yang juga dihadiri oleh ketua BEM TPB Ahmad Fahrudin. Mereka memiliki ide untuk mengadakan penggalangan dana bagi korban bencana Gunung Merapi pada hari Jumat hingga Minggu 08/11/2010, tetapi Teguh ketua angkatan 46 mengusulkan bahwa penggalangan dana dari FEMA 46 akan dilaksanakannya pada hari Sabtu hingga Minggu, hal ini dikarenakan agar banyak sumberdaya manusia FEMA 46 yang dapat membantu dalam kegiatan penggalangan dana tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk terjun langsung ke jalan-jalan dengan menggunakan sumberdaya manusia dari FEMA 46. “Untuk pemilihan lokasi penggalangan dana, kami sepakat mengambil daerah yang dilalui oleh banyak orang. Hari Sabtu pagi, kami menggalang dana di sekitar IPB, Sabtu sore di wilayah Jalan Baru dekat Tugu Narkoba, Sabtu malam di wilayah Tugu Kujang, Baranangsiang, dan Minggu pagi di sekitar IPB kembali,” tutur Teguh Jati Koordinator Kegiatan Penggalangan Dana Merapi FEMA 46.

Hasil dari penggalangan dana tersebut, kami berikan kepada mahasiswa yang akan pergi langsung ke daerah Sleman, Yogyakarta. Uang tersebut akan dibelikan sesuai dengan kebutuhan para korban yang dibutuhkan, misalnya: kekurangan alat tidur, alat mandi, makanan, dan obat-obatan. Kegiatan tersebut disambut hangat oleh para pemakai jalan dan polisi. Hal ini dapat terlihat dari mereka memberikan sumbangan yang tidak sedikit jumlahnya untuk para korban bencana Gunung Merapi. “Ketika kita berjuang untuk membantu sekitar kita, usahakan dilakukan dengan ikhlas. Untuk teman-teman yang belum sempat berpartisipasi dalam kegiatan penggalangan dana, mari kita bantu dengan doa agar bencana Gunung Merapi cepat selesai” tutur Teguh Jati Koordinator Kegiatan Penggalangan Dana Merapi FEMA 46 sembari mengakhiri perkataannya .KK/Rien

Seorang Mahasiswa Yang Peduli Akan Lingkungan Sekitar

Seorang Mahasiswa Yang Peduli Akan Lingkungan Sekitar

Patut Untuk Dikunjungi

Posted by: KARINA HEZA PRATAMA  :  Category: Google

Selasa (28/9/2010) Unit Pelatihan Bahasa Institut Pertanian Bogor melaksanakan open house selama seharian penuh. Open house dilaksanakan dalam rangka memperingati  Dies Natalis Institut Pertanian Bogor (IPB) ke-47. Pada acara open house kali ini, para mahasiswa difasilitasi oleh panitia untuk mengikuti pelatihan tujuh bahasa asing dan klub-klub mahasiswa yang berminat pada budaya negara-negara tersebut untuk tampil membawakan kesenian atau pernak-pernik budaya negara-negara tersebut. Tujuh bahasa asing yang disuguhkan dalam acara Open house adalah Jepang, Jerman, Korea, Inggris, Mandarin, Perancis, dan Arab.

Menurut seorang Kepala Unit Pelatihan Bahasa Prof. MH Bintoro, pada awalnya pelatihan ini diadakan untuk memenuhi kebutuhan staf pengajar dan para mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari tujuh negara tersebut. Acara Open House dilaksanakan mulai pukul 07.30 WIB hingga pukul 14.00 WIB.   Open House yang mengambil tempat di koridor Perpustakaan IPB (LSI)  ini disemarakkan dengan penampilan sejumlah mahasiswa dalam bentuk lagu dan tarian dari negara Korea dan Jepang. Di sini juga dapat kita temukan stand-stand informasi bahasa asing, masakan dari negara-negara luar, pameran pernak-pernik, foto busana tradisional Jepang dan Korea, cost play, Bon Odori dan Ikebana. Di tempat yang berbeda tetapi masih tetap di ruang lingkup Institut Pertanian Bogor, open house juga menggelar TOEFL Test, karaoke bahasa Perancis, Jerman, dan Jepang, Kursus Gratis bahasa Jerman, Perancis, Mandarin, dan Jepang, serta pemutaran film dari negara Jepang, Perancis, Jerman, dan Mandarin. Kemeriahan lain juga bisa kita lihat pada atraksi barongsai pada saat pembukaan acara tersebut.

Mahasiswa IPB mengenakan busana tradisional Jepang dan Korea pada acara Open House 28 September 2010

Tautan ke Mbah Google